Ceritaku hari ini
Ibu 2 orang anak balita yang pernah menjadi Puteri Indonesia Favorit 2014 ini, adalah salah seorang teman blogger yang berada di satu komunitas yang sama. Jadi saya sudah berulangkali membuka beberapa link artikelnya yang secara visual selalu tampil istimewa.
Pengalamannya yang pernah menyabet 50 gelar jawara dalam berbagai kompetisi blog di Indonesia, seringkali bikin saya rendah diri, jiper dan termegap-megap melihat blog yang dikelolanya. Apalagi saat membaca betapa beruntung Rizka mendapatkan hadiah menjejakkan kaki dan kesempatan menjelajah berbagai negara impian. Seperti Palestina, mengunjungi Piramida, Sphinx di Giza, kota Alexandria, menyusur sungai Nil, melihat salah satu keajaiban dunia di Petra, Yordania, hingga melaksanakan shalat di Masjid Al-Aqsa berikut menziarahi berbagai tempat bersejarah Islam disana. Dan nyatanya semua ini didapat sebagai hadiah atas kemenangannya di sebuah lomba blog yang diadakan oleh sebuah penyedia jasa wisata muslim ternama di Indonesia. MashaAllah.
“Memang tak ada blogger yang sempurna. Tetapi menurut saya, alangkah baiknya jika seorang blogger berusaha untuk menjadi penulis yang serba bisa” [Nrmalaa, Blog at First Sight, 2022:127]
Rangkaian pernyataan yang sesuatu banget. Dan itu menurut saya bener tak terbantahkan. Upskilling and make ourself be a better person is a must. Itu menurut saya ya. Karena pada kenyataan kita harus berjalan mengikuti perkembangan jaman, kemajuan teknologi dan kebutuhan publik, dalam profesi apapun itu. Jika tak mampu berlari maka berjalanlah. Jika tak kuat berjalan maka merangkaklah. Dan jika merangkakpun kamu susah maka lalukan sesuatu yang terbaik di posisimu yang sekarang.
Rizka menurut saya adalah contoh seorang yang bisa menjadi mentor bagi orang lain. Atau setidaknya menjadi penyemangat dan pemberi petunjuk bagaimana menjadi seorang blogger yang terus berkembang menjadi lebih baik. Bahkan di salah satu sub bagian dari artikelnya di buku ini yang berjudul “Belajar Memahami Kebutuhan dan Karakter Pembaca”, saya menemukan banyak uraian yang pantas kita pahami.
Nyatanya memang begitu. Sebuah eksplorasi dan penggalian informasi awal, termasuk kebutuhan dan keinginan pembaca, bisa jadi kebiasaan yang bermanfaat dan bernilai sebelum kita serius menggarap sebuah artikel.
Sama seperti saat kita ingin mengenalkan sebuah jenama atau produk. Memenuhi diri dengan ilmu atau pengetahuan awal tentang jenama atau produk tersebut, tentunya bisa membuat tulisan kita lebih berisi. Punya nilai berbeda pastinya. Dan ini bisa kita praktekkan saat mengikuti lomba. Ah, bener sekali. Bagaimana kita bisa membuat ulasan yang baik jika kita tidak memahami apa yang akan kita ulas.
“Saya juga berusaha mempelajari skill lain yang dapat menunjang konten blog saya. Mulai dari belajar desain grafis, fotografi, animasi, hingga teknik editing video. Karena tak dapat dipungkiri, blog kekinian telah berkembang dengan sangat dinamis. Isinya tak hanya berupa gambar dan tulisan, tetapi juga menyajikan berbagai konten visual. Maka demi memanjakan mata para pembaca, saya mencoba belajar secara otodidak, dengan memanfaatkan internet, agar dapat dapat menata konten lebih apik. Harapannya, konten yang saya buat tak hanya sarat manfaat tapi juga lebih nyaman dilihat” [Riza Edmanda, Blog at First Sight, 2022:127]
Ada yang mau meyanggahnya? Saya rasa tidak. Karena pada kenyataannya MENJADI LEBIH BAIK tuh tidak pernah ada ruginya. Apalagi jika ternyata perubahan itu mendatangkan banyak manfaat baik untuk diri sendiri maupun untuk orang lain. Yang tentu saja bisa membarengi kita mewujudkan semua impian kita.
Ulasan lengkap tentang semua pendapat yang diuraikan oleh Rizka ini dapat Anda nikmati lewat tulisannya yang berjudul “Menebar Inspirasi, Menggapai Mimpi”

Pendapat Pribadi Untuk Blog at First Sight
Saya penyuka buku-buku motivasi dan self improvement. Apalagi jika buku itu berhubungan dengan salah satu profesi yang sedang saya jalani atau tentang kisah rangkaian tangga kesuksesan dari mereka yang saya kagumi. Karena dengan membaca buku seperti ini, saya seperti mendapatkan percikan semangat baru bahkan seringkali melahirkan sentilan-sentilan istimewa untuk diri saya pribadi.
Mereka ini, yang usianya jauh di bawah saya, dengan beberapa dari mereka memiliki jumlah waktu hidup yang juga baru setengah saya, nyatanya sangat mengilhami diri saya pribadi untuk makin mencintai dunia tulis menulis yang saya jejaki sejak 2017. Kegigihan dan mental baja yang mereka miliki untuk berjuang pada banyak kompetisi, sungguh membuat saya terkagum-kagum. Bahkan sempat di banyak bagian saya baca berulang-ulang untuk bukan hanya dimengerti tapi untuk lebih dipahami.
Bukan itu saja. Ilmu pengetahuan dan penguasaan teknik mereka atas blog dan perintilannya juga sungguh mumpuni dan patut jadi contoh bagi blogger yang lain atau mereka yang ingin serius terjun menjadi blogger. Rangkaian kalimat motivasi yang diuraikan pun sangat inspiratif. Bisa loh untuk menjadi jembatan untuk memecah writing block. Tentu saja dengan lebih dahulu membuka diri, menjadi sebuah gelas kosong yang siap diisi.
Untuk tampilan fisiknya buku ini tampil rapih. Huruf yang digunakan cukup jelas dengan ukuran yang pas. Ketebalannya juga terukur. Tidak berlebihan tapi juga tidak terlalu tipis. Lem pada bukunya cukup kuat sehingga saat kita buka dan sering bolak-balik, setiap lembarannya tidak gampang terlepas.
Buku ini juga sangat informatif. Ada satu sesi khusus mengenalkan semua penulis dalam sebuah biografi singkat. Lalu di halaman paling akhir ada daftar alamat blog para penulis yang bergabung di dalam antologi ini. Bisa banget untuk blog walking sembari menggali banyak pembelajaran dari para juara.
Oia berikut ini adalah beberapa personal quote yang bagus untuk kita resapi dan dalami maknanya.
“Blog bukan hanya tentang bagaimana kita bisa mencurahkan ide dan gagasan. Didalamnya ada mimpi yang bisa diraih bagi mereka yang percaya” [Joko Yugiyanto, Blog at First Sight, 2022:120]
“Menulis dengan hati bagi saya adalah fondasi untuk membuat sebuah karya yang tak hanya akan dibaca tetapi akan terus diingat”. [Rizka Edmanda, Blog at First Sight, 2022:129]
“Saya seorang Ibu. Saya akan bertahan. Saya akan mengantar Rashif ke gerbang kesembuhan. Kalah bukanlah pilihan karena harapan saya berlimpah. Cinta saya pada Rashif pasti mengantar saya ke garis kemenangan” [Mutia Ramadhani, Blog at First Sight, 2022:3]
“Semua berawal dari iseng ngeblog, sampai akhirnya membangun personal branding. Personal branding ini yang membuat orang percaya untuk bekerjasama dengan kita. Personal branding terbangun melalui proses, tidak bisa hitungan tiga menit seperti layaknya menyeduh mie instan” [Janu Muhammad, Blog at First Sight, 2022:19]
“Menulis melatih kita mengkomunikasikan apa yang ada dalam pikiran menjadi sebentuk karya yang bisa dinikmati orang lain” [Priyo Harjiyono, Blog at First Sight, 2022:39]
“Menjadi blogger, selain mampu memberikan manfaat lewat tulisannya, juga perlu untuk memastikan bahwa apa yang kita tuliskan dapat dipertanggungjawabkan” [Priyo Harjiyono, Blog at First Sight, 2022:41]
Komentar
Posting Komentar